Senpai, Saya Ingin jadi Pilot

Berikut ini adalah sebuah kisah nyata yang dialami oleh orang yang sangat saya kenal. Kisah ini pernah dimuat di majalah Era Muslim. Mudah-mudahan kisah ini bermanfaat.

 

#Aku Tak Mau Punya Mahasiswa seperti Dia#

Saat itu adalah akhir musim gugur di tahun ketiga studi doktoralku di laboratorium beton, the University of Tokyo, Jepang. Ah saatnya berganti tempat duduk dan melelahkan, aku mengeluh dalam hati. Seluruh mahasiswa dan peneliti di laboratorium ini, tidak terkecuali yang sudah senior pun harus mau berganti posisi, tidak perduli buku dan kertasnya puluhan kilo beratnya. Semua harus dipindahkan, termasuk komputer, rak buku, alat makan serta pernak pernik isi laci, saat yang paling melelahkan tetapi harus dilaksanakan. Semua mengeluh dan cemberut, tapi apa daya. Aturan itu dibuat agar semua mahasiswa merasakan suasana baru dan mendapat teman baru di sisi kanan, kiri, muka dan belakang. Keluhan dan protes semakin keras biasanya datang dari mahasiswa senior, karena semakin lama, buku, jurnal dan majalah mereka semakin tinggi bertumpuk di rak buku masing-masing. Aku memandangi tumpukan buku dan jurnal di rak buku dan dalam laci mejaku. Uh, aku butuh energi dan semangat lebih, aku menarik napas panjang.

Setelah Benny, seorang peneliti asal Surabaya, Okhovat, seorang mahasiswa doktor tingkat akhir asal Iran, sesuai urutan senioritas, aku dipersilahkan untuk memilih posisi. Ah, musim semi tahun depan pasti saat aku sudah sibuk menulis disertasi, alangkah bagusnya jika aku memilih tempat di sisi jendela besar yang menghadap deretan pohon sakura yang melambai saat angin musim semi bertiup. Ya, aku sudah memutuskan, di sana saja, di belakang printer, tempat paling diburu mahasiswa dan biasanya hanya yang senior yang bisa menempatinya. Ah..iya..sudah di posisi senior aku sekarang. Betapa cepatnya waktu berlalu. Dua setengah tahun yang lalu… aku terjebak di tempat yang gaduh, karena ada tiga seniorku, mahasiswa asal Asia Selatan yang sangat gemar berdebat, pagi dan sore. Aku tidak bisa memilih dan belum mengerti tempat mana yang paling baik apalagi protes dan menyuruh mereka tutup mulut.

Posisi kami di ruangan selalu berselang seling dengan mahasiswa dari laboratorium jembatan. Karena sisi belakangku adalah jendela yang menghadap pohon-pohon cantik, maka tetanggaku hanya di samping dan di depan. Duduk di samping kiriku adalah mahasiswi S1, bernama Oh, cantik, dari lab jembatan asal China yang berwarganegara Jepang, tapi sudah tidak bisa berbahasa China. Sisi kananku juga seorang wanita muda, Kikuchi, S1, dari lab jembatan, ramah tapi sangat pendiam. Meja di depan Oh ditempati mahasiswa S1, aku tidak tahu namanya, satu lab denganku, seorang pria muda, sedikit berjerawat dan penampilannya seperti ABG yang agak menyebalkan. Dinh, mahasiswa doktoral dari lab jembatan asal Vietnam yang duduk di depanku menunjukkan wajah tak ramah pada si pemuda ini. Karena kemudian si pemuda jarang muncul di lab, maka setelah sekian lama, aku lupa wajahnya dan akhirnya juga lupa bahwa salah satu anggota labku pernah bertempat duduk di sana.

Pagi itu adalah hari yang dingin di awal bulan November. Musim dingin datang lebih cepat daripada tahun sebelumnya, membawa kesan muram pada wajah-wajah mahasiswa yang tertekan.

“Nande?” Oh menyahut tiba-tiba.

Aku mengangkat wajahku dari jurnal di atas mejaku. Kulihat Oh menatap wajah di depannya. Aha,.. ternyata si pembolos datang, bakal berisik nih, aku mendengus. Ini hari Senin, saat rapat lab rutin dilakukan setiap minggu. Anak malas ini hanya hadir jika ada rapat. Dia pikir pembimbingnya tidak tahu jika dia setiap hari membolos, karena dia selalu berusaha hadir hanya saat rapat mingguan, saat setiap mahasiswa berhadapan wajah langsung dengan pembimbing. Dia juga tidak tahu jika setiap saat komputer mahasiswa dalam posisi aktif, para pembimbing akan dengan sangat mudah melacak apakah si mahasiswa sedang bekerja atau tidak, bahkan dari kantornya, sang profesor bisa dengan mudah melihat apa yang sedang kita pandang di layar monitor kita, jika beliau mau.

“Nanimo nai!” Si pemuda menyahuti Oh dengan melempar pandangan mata menggoda.

“Kenapa sih, kenapa kamu melihatku dengan cara seperti itu, apa yang salah dengan wajahku?” Oh meneruskan pertanyaannya.

“Tidak sih, aku hanya ingin memandangmu saja, aku kagum dengan semangat dan keseriusanmu dalam belajar.” Sekali lagi pemuda menyahut sambil tersenyum kecil, masih menggoda, tersenyum nakal dan tidak perduli dengan tatapanku yang merasa terganggu dengan ulahnya. Anak ini tidak bisa berbicara lirih, selalu dengan intonasi tinggi, aku mengeluh.

“Huh dasar genit, kamu itu harus rajin belajar, kamu jarang masuk tapi tiba-tiba datang hanya untuk memandang wajah orang saja, sana kerja!” Oh tertawa lebar.

“Huh!” aku mendengus, tanpa sadar dan agak keras. Pemuda itu memandangku, dan aku yakin Oh sedang melirikku. Aku melemparkan tatapan mata kesal pada pemuda itu, dia membalas menatapku dengan pandangan mata bosan. Walaupun mengerti aku merasa terganggu dengan ulahnya, tampaknya pemuda ini tidak punya kegiatan lain selain mengganggu gadis di sebelahku. Ya Allah, bisikku dalam hati, kumohon, jangan kirimkan mahasiswa seperti ini padaku di kemudian hari. Suatu doa yang nanti akan aku sesali dan aku ralat.

Semua yonensei, sebutan untuk mahasiswa S1 di tahun terakhir harus bergabung di lab bersama seniornya dan mengerjakan penelitian selama setahun, sampai mereka dinyatakan lulus. Jadi, jika mereka mulai masuk di musim semi seperti pemuda itu, Oh dan Kikuchi ini, berarti mereka harus sudah menghadapi sidang akhir di musim semi berikutnya. Semua penelitian di laboratorium beton berat dan butuh ketekunan, tapi si pembolos ini jarang masuk, sehingga aku menduga jangan-jangan dia tidak bisa lulus. Apalagi pembimbingnya adalah ass Prof Ishida yang dikenal sangat ketat dalam menilai hasil pekerjaan mahasiswanya. Walaupun beliau bukan pembimbing utamaku, aku tahu benar gaya membimbingnya, karena separuh disertasiku berisi permintaan khusus beliau. Beberapa kali aku melihat mahasiswa S1 yang gagal lulus karena dianggap belum layak. Standar yang ditetapkan tidak bisa diturunkan atau diubah, sehingga mahasiswalah yang harus mengikuti standar itu. Aku membandingkan lab ini dengan lab tempatku bekerja di ITS, Surabaya. Banyak hal yang perlu aku lakukan nanti jika lulus.

Brak..bruk..brak..sreek..sreek.. suara tas dibanting dan aktivitasnya dimulai di mejanya. Aku kembali menatap meja itu dengan kesal. Si pembolos saat mengetik di komputer pun memberi tekanan ujung jari lebih dari yang dibutuhkan setiap tombol. Tarikan napasnya juga sangat keras dibuat-buat seperti orang yang sudah kerja kelelahan dan terbebani. Aih, berisik, aku mendesis. Dinh yang duduk di sebelahnya seharusnya protes. Aku melirik Dinh yang berada di depanku, dari samping monitor komputerku, raut wajahnya berkerut tak senang. Sadar bahwa aku meliriknya, Dinh mengangkat wajah melihatku dan kemudian mengangkat bahunya sebagai balasan. Tau ah gelap, kira-kira begitu aku mengartikannya. Aku yakin saat itu, doaku yang kupanjatkan sudah tepat. Jangan pernah aku memiliki mahasiswa seperti si pembolos ini. Tidak lama kemudian aku segera melupakannya. Segala kesedihan selalu aku buang sesegera mungkin. Ini cara yang paling ampuh untuk bisa konsentrasi menyelesaikan segala urusanku di laboratorium. Sebagai seorang ibu, meninggalkan tiga orang anak dan suami selama tiga tahun di negeri orang bukanlah hal yang mudah. Karena itu, hal-hal yang menjengkelkan biasanya tidak lama bersemayam di otakku yang sudah sesak dengan urutan pekerjaan ini dan itu.

catatan:

Senpai: kakak

Nande: kenapa

Nanimo nai: tidak ada apa-apa

 

#Terimalah Dia sebagai Bimbinganmu#

Satu bulan sudah berlalu. Jangankan seminggu sekali, sejak saat itu gelar si pembolos tertancap di dahinya, karena mahasiswa menyebalkan itu tidak pernah hadir di lab dan dalam pertemuan mingguan. Dengan sangat mudah dia dilupakan siapapun, kecuali pembimbingnya dan asisten profesor.

Hingga suatu hari..
“Ya agenda rapat berlanjut, ada yang ingin menyampaikan sesuatu?” moderator rapat lab hari itu bertanya.

Ada mahasiswa di pojok itu berjas sangat rapi, berdiri. Aku bertanya pada samping kananku, “Eh itu siapa ya?” Yang ditanya, mahasiswa senior, doktor tahun ketiga, menggelengkan kepalanya sambil melongo. Aku bertanya pada samping kiriku, “Eh dia itu anggota lab kita?” Yang aku tanya tutorku, Fujiyama, mahasiswi doktoral tahun ke dua. “Iya, Yani-san, dia yonensei. Dia memang jarang hadir dan sepertinya mau mengatakan sesuatu yang serius..ssttt….dengarkan” tutorku berbisik. “Namanya siapa?” aku berbisik lirih. “Kitamura-kun..sstt..” tutorku tampak khawatir. Aku bertanya-tanya, ah jangan-jangan yang duduk di depan Oh, si pemuda yang berisik itu. O..namanya Kitamura, dalam bahasa jepang nama ini artinya desa di utara. Aku menyapu pandangan ke ruangan rapat, ah, Ass Prof Ishida, pembimbingnya tidak hadir saat itu.

“Saya minta maaf atas keteledoran saya, karena saya tidak pernah hadir dalam rapat…bla..bla.. (dalam bahasa jepang yang sangat formal dan halus)..bla..bla..saya mohon sungguh-sungguh untuk dimaafkan” si pembolos mengakhiri pidatonya sambil membungkuk 90 derajat, cara membungkuk paling formal di Jepang. Sepertinya dia sudah ditegur lewat email.

“Yah saya ingin menjelaskan mengapa kami kecewa dengan caramu…bla..bla.. (dalam bahasa Jepang yang tegas dan tajam)..bla..bla..seharusnya kamu juga mengabari lewat email jika memang berhalangan hadir di rapat dengan alasan yang tepat. Lab ini ada aturannya..dst…” Dr. Nagai, asisten profesor,  berbicara panjang lebar dengan wajah merah. Kelihatannya sangat sulit dosen muda ini menahan marah.

Lama sekali Dr. Nagai berbicara dan yang dimarahi tetap berdiri dengan memasang wajah penyesalan mendalam, seperti aku dulu disetrap saat masih SD. Tidak ada yang mengasihaninya. Tanpa ampun, bahkan ada yang menganggukkan kepala karena setuju. Udin, yuniorku, mahasiswa S2 tahun pertama, baru datang dari Indonesia, berbisik, “Mbak, emang kenapa sih nih anak?” Udin terlihat heran melihat pembimbingnya berbicara tanpa henti. “Sstst..si pemalas sedang dimarahi pembimbingmu, kapok, kapok, wis, dasar bandel!” bisikku. Aku merasa sangat puas hari itu.

Minggu berikutnya adalah saat Kitamura memberikan presentasi hasil penelitiannya. Ah, aku mau lihat seperti apa, penasaran aku bertanya-tanya dalam hati. Dia membagikan foto copy lembar presentasinya ke seluruh peserta rapat, termasuk ass Prof Ishida, pembimbingnya. Wow, apa ini, kok serius juga ya, aku terkejut. Biasanya presenter tidak membagikan lembar presentasinya, karena ini hanya diskusi kecil. Aku lihat pembimbingnya juga terkejut. ” Wah serius bener nih” sahut beliau, menyindir, rupanya kasus minggu lalu sudah diceritakan pada sang supervisor. Yang disindir tersenyum dan dengan percaya diri dia menyampaikan hasil pekerjaannya. Dia meneliti tentang managemen pengambilan keputusan pada perusahaan konstruksi Jepang yang mengikuti tender di negara lain. Beberapa negara di Asia menjadi obyek penelitiannya. Aspek kepuasan pelanggan dan kekuatan perusahaan Jepang dalam menjaga `image` menjadi faktor utama. Ah lumayan juga nih bocah, aku berkata dalam hati, tapi sayang pemalas.

Dua minggu berlalu, memasuki bulan Desember, udara dingin menusuk menyerang setiap mahasiswa yang sedang bereksperimen di ruang bawah tanah. Statusku di facebook tidak pernah jauh dari kalimat: I hate winter, atau Dingiiin… dsb. Biasanya juga diikuti komentar kawanku: sabar,..tawakal dsb. Saat yang berat untuk beraktifitas, terlebih lagi memang ada masalah dengan hasil pengukuranku. Beberapa kali aku mencoba, tetapi hasilnya tidak konsisten. Aih, rasanya ingin kuakhiri saja semua. Ini juga salah satu status favoritku di facebook. Kabel-kabel ini, cetakan itu dan alat pengukur ini membuat aku semakin tertekan, terlebih lagi ini sebenarnya bukan materi utama penelitianku. Seperti biasa, ass Prof Ishida meminta waktuku khusus untuk mengerjakan beberapa tugas tambahan.

“Yani-san, konnichiwa!”

Aku mendengar suara Ass. Prof Ishida menyapaku di ruang yang dingin itu.

“Ah sensei, konnichiwa, kyo wa chotto samui desune.”

Aku membalas sapanya dan kulihat beliau hanya menggunakan kemeja biasa, pantas beliau terlihat menggigil.

“Yani-san, do you know him?” Ishida-sensei bertanya.

Sosok ramping bergeser dari sisi belakang beliau, si pembolos ternyata.

“Are, dare desuka?” Aku berpura-pura tidak peduli.

Sensei tertawa lebar melihat aku bercanda.

“Dia Kitamura, katanya mejanya dekat dengan mejamu, iya kan?” sensei tersenyum.

“Ah, iya saya sampai lupa, pantas, saya merasa seperti pernah bertemu!” Aku menyindir sambil tersenyum masam.

Sensei terbahak-bahak. Yang disindir tersenyum jengah, malu, kesal, dan pasrah.

“Yani-san, kamu tahu kan apa yang kamu kerjakan ini bisa merubah peraturan Jepang tentang penggunaan campuran semen. Ini kan penelitian yang sangat sensitif. Saya ingin kamu mengajari Kitamura-kun apa saja yang kamu kerjakan. Saya memutuskan untuk mengganti topik penelitiannya. Penelitiannya yang dulu terlalu bias, saya ingin hasil yang lebih fokus dan bermanfaat. Saya yakin kamu orang yang tepat untuk mengajarinya. Dia hanya punya waktu 2 bulan untuk menyelesaikan penelitiannya bersama kamu. Saya mohon dengan sangat kamu mau menerimanya.”

Kata-kata sensei mengalir seperti ribuan jarum yang menusuk seluruh pembuluh darahku. Astaghfirullah..astaghfirullah.. ini hari terburukku.

Aku mengatur nafas, mengatur hati dan kemudian mengatur kata-kata. “Sensei, saya hanya mengikuti arahan anda. Mohon saya diberi petunjuk dan kebijaksanaan. Ini waktunya sangat singkat buat dia dan apa yang saya kerjakan ini tidak mudah karena saya sudah mengembangkan metoda ini selama setahun, tidak hanya teori tapi juga di sini dibutuhkan ‘special feeling’ untuk bisa mendapatkan ‘tangan dingin’ agar hasil pengukuran ini tepat. Sensei tahu benar betapa sulitnya ini semua. Ada hubungan emosional antara hati kita dengan spesimen-spesimen ini.”

Aku memasang wajah datar dan serius. Aku yakin sensei paham bahwa aku ‘sedikit’ keberatan.
“Ya, tepat sekali Yani-san. Seperti saya bilang tadi, kamu orang yang tepat. Saya tidak akan meminta dia mengerjakan serumit yang kamu kerjakan. Saya hanya ingin dia paham secara garis besarnya saja. Nanti saya akan mengarahkan”.

Sensei berkata lebih lembut lagi dengan menatapku lama menanti jawaban.

Aduh..aduh… sudah tidak ada jalan lain, sudah tidak ada celah lain..Bismillah…Aku menarik nafas dalam-dalam, ” Sensei, I will do my best. Selama ini saya bekerja sendirian, terima kasih sudah mau mengarahkan dia sehingga bisa membantu pekerjaan saya nanti. Dia akan jadi kohai (adik) saya di eksperimen ini !”

“Doumo arigatou gozaimashita, Yani-san! Saya ingin sekali mengerjakan eksperimen seperti ini, sehingga baju saya terkotori oleh semen seperti bajumu. Terlihat seperti insinyur yang keren!”.

Kitamura antusias sekali dan kemudian melanjutkan kata-katanya dalam bahasa Inggris yang sangat lancar. Ajaib, sebelumnya aku belum pernah mendengarkannya berbicara dalam bahasa Inggris. Luar biasa, kemampuannya ini di atas rata-rata teman-temannya sekelas. Ya Allah akupun menantikan keajaiban-Mu.

“Haik, Kitamura-kun, yarimashou! mulai sekarang saya tidak akan membiarkan bajumu bersih. Dalam hitungan hari, kamu akan tahu betapa beratnya ini semua.” Aku menyahut.

“OK-lah, kalian selamat bekerja ya, Yani-san terima kasih ya.” Sensei tersenyum dan kemudian berlalu. Senyum sensei tampak tulus. Entah mengapa hari itu aku memandang semuanya menjadi hitam dan menjengkelkan bahkan senyum sensei seperti seringai keji, serigala jahat. Atap di ruangan itu seperti mau runtuh dan lantainya seperti terkena guncangan gempa.

Setengah berlari dengan kaki gemetar, aku menuju tempat sholat, memohon pertolongan pada-Nya. Ya Allah, beban ini sudah berat, dua topik disertasi telah aku kerjakan bersamaan, tapi kenapa anak itu hadir sebagai tambahan beban, padahal aku sudah pernah meminta, memohon ya Rob, jangan sampai aku punya mahasiswa yang seperti dia. Tapi.. kenapa anak itu langsung Kau hadapkan padaku. Ini semakin berat. Aku mohon petunjuk-Mu ya Rab, agar aku sanggup. Amin. Aku menyeka air mata.

Aku mulai khawatir bahwa aku telah salah berdoa tapi aku tahu, saat itu Allah telah sedikit mencubit pipiku.

Catatan:

Tutor: Mahasiswa Jepang terpilih yang membantu mahasiswa asing di tahun pertama di Jepang.

San: sebutan di akhir nama seseorang untuk menghargainya

Kun: sebutan seperti san tetapi untuk pria yang lebih muda dari kita

Konnichiwa: selamat siang

Kyo wa chotto samui desune: hari ini sedikit terasa dingin ya.

Are, dare desuka: Ah, siapa ya

Sensei: profesor

Yarimashou: ayo dikerjakan

 

# Dora Emon-Nobita Equation#

Penuh perjuangan aku mengajarinya dengan menelan semua ketidaksabaranku. Dengan kesungguhan pula dia berusaha menyerap apa yang aku sampaikan. Orang Jepang sangat paham bahwa menggunakan waktu orang lain dan merepoti orang lain, apalagi senior, adalah hal yang sangat tidak menyenangkan.

“Yani-san, kata Kitamura-kun, saya akan kehilangan seluruh waktu tidur saya, bahkan untuk bernafas pun saya akan kesulitan karena tugas ini banyak”. Dia berkata sambil menggulung kabel-kabel.

“Bagus kalau kamu paham, saya juga akan menekanmu supaya lari lebih kencang lagi. Saya hanya akan mengajari sekali ini saja dan kamu hari ini masih jadi pendamping. Ini tidak berlaku buat besok, karena kamulah yang jadi pekerja utama, saya yang mendampingi. Jadi perhatikan semua dengan seksama, pahami dan tanyakan apa yang belum dimengerti, saya tidak akan mengulangi lagi.” Aku berkata perlahan tapi tegas.

“Haik, wakarimashita!” dia mengangguk pasti.

Melihat dari sorot matanya, aku yakin pelajaran hari ini semua dipahami seluruhnya. Hmm.. memang mahasiswa unggulan yah rupanya. Kita lihat saja nanti, kataku dalam hati.

Minggu berikutnya, dia memberikan presentasi rencana eksperimennya di saat rapat lab mingguan. Cepat sekali dia menangkap urutan pekerjaan yang aku sampaikan walaupun aku yakin dia belum paham dasar teorinya. Sampai di sini, cukuplah dia berfungsi sebagai pekerja, bukan peneliti. Tapi itu tidak penting saat ini, waktu kami tidak banyak. Banyak peserta rapat yang menyalahkan hasil hitungannya. Dia bertahan bahwa apa yang ditulis sudah benar, karena ukuran yang dipakai berdasarkan hasil eksperimenku. Dia tampak sangat kesal.

“Tuh kan Yani-san, hitungan saya benar, orang-orang tidak percaya, mereka sangka karena saya tidak pernah mengerjakan eksperimen, saya pasti tidak bisa menghitung volume semen. Saya ini cerdas, saya ini pilot, saya tidak mungkin salah”. Dia terus menyerocos sambil mengiringu keluar ruangan rapat.

Aku menghentikan langkahku.

“Pilot? Apa ini? Memangnya pilot tidak pernah salah, dan pilot kalau sudah sombong pesawatnya bisa jatuh. Orang kalau sombong pasti akan banyak salahnya, jadi perbaiki saja apa yang salah, jika benar ya sudah, kita tidak punya banyak waktu untuk mengeluh!” Aku menyahut sambil menatap matanya lurus.

Dia tertunduk.

“Yani-san kamu benar, tapi memang saya ini pilot, kamu tidak percaya ya. Saya sudah dapat ‘licence’ dari ANA untuk jadi penerbang internasional. Saya dapatkan di Swiss empat tahun lalu dan tidak mudah. Saya juga satu-satunya yang bisa lulus ujian akhir universitas sedangkan 5 orang yonensei lainnya tidak lulus sehingga mereka harus tertahan di universitas untuk melanjutkan master. Jadi kalau saya tidak bisa selesaikan skripsi saya, saya bisa batal jadi pilot, karena kontrak saya sudah jelas di musim semi ini . Kalau gagal, itu bisa mengakhiri seluruh harapan hidup saya. Kamulah harapan saya, Yani-san. Saya berjanji menjadi kohai yang baik, saya janji menurut semua perintahmu.” Dia berkata sungguh-sungguh.

Memang banyak orang bilang kalau di universitas ini ujian keluarnya sangat sulit, apalagi ujian masuknya. Aku percaya padanya.
Aku terdiam, kemudian berusaha mencairkan suasana kaku itu.

” Hoi, apapun yang terjadi, saat ini saya tidak berani naik pesawat ANA, karena pilotnya kayak gini. Bahaya, nggak aman. Kalau pekerjaanmu tidak memuaskan, saya akan mencari maskapai lain, meskipun kamu kasih tiket gratis. Kalaupun memuaskan, jika saya memilih ANA, saya tanya dulu siapa pilotnya. Begitu saya dengar nama Naoki Kitamura, saya langsung turun dari pesawat dan minta ganti rugi.”

Dia tertawa terbahak-bahak.

“Kenapa semua orang kejam pada saya, semua berkata hal yang sama, baiklah saya akan berusaha meyakinkan kalian. Saya juga akan memberi tiket khusus jika Yani-san yang jadi penumpang saya.”

Aku tersenyum, “My dear kohai, saya tidak butuh tiket pesawat, saya hanya perlu bukti kalau kamu mampu kerjakan ini tepat waktu, itu saja.”

Dia mengangguk sambil berkata: “Yani-san lah dora emon karena semua yang saya tanyakan pasti bisa dijawab.”

Aku terbahak-bahak “Ah dasar Nobita, pemalas, tukang mengeluh, menyebalkan, berisik!”

Hari-hariku diawali pagi hari karena harus mengawasinya bekerja, siap menjawab pertanyaannya tentang alat ini itu dan juga pulang larut malam karena harus mereview apa yang sudah dia kerjakan. Aku seperti memiliki beban berton-ton di kepalaku. Aih sensei, kenapa harus aku, ambisi grup risetmu untuk bisa merubah peraturan di Jepang sudah sangat menyiksaku. Aku jenuh dan ingin pulang saja ke Indonesia. Lelah lahir dan batin. Aku juga semakin tertekan setelah tahu banyak paper yang aku berikan pada Kitamura tidak dibacanya sama sekali. Sering kali aku bahkan memarahinya karena kesal dan frustasi. Sensei pun tidak henti memberikan tugas pengecoran tambahan ini dan itu padanya, yang artinya tugasku semakin bertambah saja.

” Aduh Kitamura-kun, kamu ini bagaimana, settingmu itu kan nggak sesuai dengan tujuan eksperimen. apa yang mau kamu ukur? Haduuuuh…dulu itu paper yang saya kirimkan ke emailmu kok tidak dibaca? Alasan apalagi? Bahasa Inggris? Nggak bisa! Pilot bahasa Inggrisnya kan bagus, kamu baca malam ini. Besok kita diskusikan, jangan minum bir, awas kalau kamu kesiangan besok, saya tidak bisa lagi membantu, eksperimen saya juga masih kacau nih, belum lagi paper yang harus saya buat untuk sensei.” Sering kali kata “pilot” menjadi senjataku untuk menghajarnya, jika frustasiku datang.

Dia tidak pernah mengeluh tapi aku tahu dia sudah tertekan. Sayangnya, anak ini jiwanya bebas laksana burung, kadangkala masih bandel dan mengendap-endap masuk ke ruangan karena kesiangan. Setelah itu berpura-pura sibuk mengerjakan hal yang tidak penting, sekedar menghindari tatapan mataku.

Di bulan Januari, saat musim dingin semakin menekan, aku jatuh sakit tepat di hari ulang tahunku. Paperku untuk konferensi internasional tentang beton, kubuat dengan sisa tenaga yang ada. Sensei, sang associate tahu kalau aku sedang sakit, tapi ‘deadline’ laporanku sudah dekat. Lantas, apa katanya? “Yani-san, saya tidak melihatmu serius bekerja, coba kamu lebih fokus lagi!”

Semua warna di bulan Januari menjadi abu-abu. I hate winter. Kalimat itu muncul lagi di status facebook-ku, diikuti acungan jempol teman se-labku dari Mesir.

Sabar dan sholat, itulah penolongku. Aku berusaha bersabar dan mencurahkan semua kesulitanku kepada-Nya, agar semua lebih terasa ringan. Kitamura mengerti kesulitanku, dia menjadi semakin mandiri tapi juga masih belum banyak memahami inti dari pekerjaannya. Aku semakin lelah mengajarinya untuk memahami dasar teori penelitiannya.

“Saat kemarau, air yang tersedia tidak banyak, semua kehausan. Beberapa Dora emon yang bertubuh besar berebut air, tapi tiba-tiba datanglah Nobita kecil-kecil yang lebih gesit mengambil airnya. Dora emon terdesak, tapi sebagian Nobita yang lain juga kehausan. Akibatnya air semakin berkurang dan akhirnya mereka berebut, banyak yang terluka dan banyak yang sobek bajunya. Itulah yang terjadi pada beton yang disusupi slag, material tambahan yang lebih halus daripada semen. Jika air dalam campuran beton dikurangi, semen yang ditambahi slag akan sangat kekurangan air. Timbul retak yang tidak diinginkan. Retak ini bahaya sekali. Dora emon adalah semen dan Nobita adalah slag-nya. Terlalu banyak Nobita akan menyusahkan Dora emon. Retak karena penyusutan itu lah yang jadi inti dari penelitianmu. Mengerti kamu, Kitamura-kun?” Entah mengapa karena frustasi aku menerangkan dengan cara seperti ini.

Kitamura melongo sebentar, kemudian tersenyum.

“Saya belum pernah merasa otak saya secerah ini, Yani-san benar-benar sensei yang hebat!”

Aku menarik nafas dalam, lega, alhamdulillah.

“Ya, tapi jangan ceritakan teori Dora emon-Nobita ini saat sidang defense-mu nanti ya, awas! Kamu baca lagi papernya dan terangkan menurut teori yang sesungguhnya, jika tidak orang akan curiga otakmu mengalami penyusutan seperti spesimen kita.”

Saat dia harus menganalisa hasil eksperimennya, tidak luput hampir setiap hari aku memarahinya. Kadang-kadang kawan di sampingku, Oh, sampai mengingatkan, “Yani-san, tumben hari ini kamu belum uring-uringan, hehe.. kamu itu kok kayak mami yang super baik ya, Yani-san!”

“Kitamura-kun, ini sudah malam, kamu pun dari tadi belum makan. Ini saya berikan saja filenya, tidak perlu kamu kerjakan semua, saya akan membantu analisa sebagian grafik, toh itu ada kaitannya dengan riset saya.”

Aku sedih melihat sorot matanya yang sudah kuyu dan lelah.

“Terima kasih Yani-san, ini tugas saya. Tidak apa-apa. Meskipun lambat, karena baru belajar menganalisa, saya akan mengerjakan tugas saya.”

Dia tidak mau dibantu dan tidak mau mencontek pekerjaanku, meskipun aku menawarkan. Jujur dan pantang menyerah, bagus, bagus, go Nobita go, aku berbisik. Kami semua di ruangan itu sudah lelah. Banyak yonensei yang begadang juga mendekati sidang akhir.

Tiba saatnya dia harus menjelaskan hasil analisanya pada sensei. Wajahnya cerah saat kembali dari ruangan sensei.

“Yani-san, you are my hero..hontou..you are the real dora emon. Berkat penjelasanmu, sensei puas dan saya diperbolehkan ikut sidang akhir”.

Duh Gusti… alhamdulillah .. alhamdulillah …alhamdulillah. Doaku saat ini sudah diralat. Ya Allah, kirimkan mahasiswa seperti ini padaku, amin.

Pagi itu, aku tidak bisa menunggui para yonensei sidang akhir karena kesibukanku mempersiapkan graduation ceremony yang diselenggarakan the Hitachi Scholarship Foundation, penanggungjawab beasiswaku. Harapan dan doaku tetap bersama mereka. Aku bisa datang setelah waktu sholat dhuhur. Beberapa sidang yonensei sudah selesai, termasuk si Nobita.

Siang hari aku baru sampai di lab. Kitamura masuk ke ruangan, terus tersenyum padaku dan menyapaku, sementara aku cepat menyahut seperti emak yang panik dengan hasil ujian anaknya.

“Konnichiwa Kitamura-kun, doudeshitaka?”

Aku penasaran dengan hasil sidangnya.

Agak tercekat suaranya dia berkata: “Yokatta Yani-san, semua berkat kamu, semua karena kamu saja satu-satunya, ichiban yasashii senpai, sekarang saya bisa terbang, saya bisa ke angkasa. Kamu sudah mengirim saya terbang, Kamu memberi saya sayap. Terima kasih. Doumo arigatou gozaimashita.” Berulang-ulang dia menunduk formal, sampai aku berdiri dari kursiku dan membalas: “iie..nggak perlu gitu, douitashimashite..sudah ah.. selamat ya, Nobita.”

Masih saja dia membungkuk dan aku tahu dia menahan tangis. Segera sekelebatan aku teringat saat-saat berat membimbingnya, mataku ikut basah. Ayolah, masa mau tangis-tangisan di lab, aku menyadarkan diri sendiri.

“Aaah.. iya saya ingat. Kamu janji kan kasih saya tiket spesial? nah bagaimana kalau suatu saat nanti saat saya naik pesawat kebetulan pilotnya kamu, saya boleh kan ya masuk ke kabin? foto-foto di atas udara? juga dengan pilot dan co-pilotnya?”

Dia menarik napas dan menyahut: “Boleeeeh, Yani-san bilang saja ke pramugarinya, kasih kertas sampaikan ke saya nanti kami panggil ke kabin.” Aku tertawa.

“Wah saya juga ingin dong punya foto pura-pura jadi pilot gitu, pegang setirnya”.

Dia merengut. “Apapun selama ini saya turuti Yani-san, karena kamu yang terbaik di riset ini, tapi kalau sudah di kabin, kamu yang harus nurut dengan saya, maaf ya!”

Semua mahasiswa di ruangan itu tertawa. Dia bangga sudah bisa memberikan hadiah buat ibundanya di rumah, menjadi pilot, cita-cita ibunya sejak kecil. Ambisi ibunda yang menjadi mimpi sang anak.

“Kitamura-kun, sepertinya kamu bakal terkenal di Indonesia. Di facebook saya banyak sahabat yang menyampaikan selamat atas kelulusanmu”.

Kami tertawa.

“Iya Yani-san, saya ingin terus pergi ke Bali, saya suka Bali.”

Saat acara nomikai (pesta minum bir) menyambut berakhirnya sidang akhir, tentu saja aku tidak hadir. Aku dengar si Nobita menangis tersedu-sedu tidak tertahankan waktu memberikan sambutannya, karena terharu bisa menyelesaikan risetnya tepat waktu. Beruntung memang aku tidak hadir. Aku tahu aku sangat cengeng.

Hasil eksperimennya saat ini sudah aku kombinasikan dengan hasil analisaku untuk menjadi persamaan khusus hubungan antara retak dan kekuatan beton karena pengaruh tambahan slag, material buangan dari pabrik baja. Persamaan itu aku sampaikan di halaman terakhir disertasiku di chapter 3. Inilah persamaan hasil kerjasama antara si Galak Mami Dora emon dan si Berisik Nobita.

Dua minggu sudah berlalu. Tiba saatnya seluruh anggota lab mempersembahkan sebuah lembar kertas berbingkai tempat kami menulis pesan. Saat itu, beberapa mahasiswa memberikan kalimat bernada canda atau lecutan semangat pada calon wisudawan. Buat Kitamura, aku menggambarkan pesawat dengan dua bendera: hinomaru dan merah-putih mengangkut topi toga sambil mengudara. Aku tuliskan pesan: Dear my little brother, see you soon in this airplane!

Yani-san, we are friends forever, begitu balasan sms-nya padaku.

Aku berharap bisa memiliki mahasiswa seperti ini, tetapi belum berani berharap lulusan teknik sipil ITS menjadi pilot pesawat Garuda.

Do not judge a book by its cover. Ini memang benar dan sudah terjadi padaku. Aku sudah meralat doaku dan semoga Allah mengabulkan ralatnya. Amin.

(selesai)

catatan:

Yokatta: syukurlah

ichiban yasashii senpai: kakak kelas yang terbaik

iie: tidak perlu

douitashimashite: sama-sama

Leave a Reply